Perdagangan

Pakpak Bharat Sentra Jeruk Manis di Sumut

13 November 2014

Pakpak Bharat, (Analisa). Petani dan Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat tengah bersiap menuju sentra jeruk manis terbesar di Sumatera Utara. Itu ditandai kualitas produksi baik rasa, aroma serta warna komoditas khas dimaksud. Sementara itu, animo masyarakat untuk budidaya menunjukkan peningkatan signifikan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Makner Banurea kepada wartawan di Salak, Jumat (7/3).

Dari sisi rasa, katanya, dinilai cukup manis. Berbagai fakta menunjukkan buah ukuran super atau grade A tidaklah sukar dihasilkan petani. Warnanya juga mengkilat tak kalah dibanding panenan Brastagi Kabupaten Karo. Areal pertanian terhampar di Kecamatan Salak, Siempat Rube, Tinada dan Kerajaan

Makner menerangkan, tahun 2003, jumlah penggiat hanya belasan orang. Belajar dari sukses mereka, semangat warga pun bangkit . Tahun 2013 terdata 400 hektar sudah fase produksi dan 200 hektar sedang masa pertumbuhan.

Keberhasilan itu, lanjutnya, tidak terlepas dari sentuhan pemerintah berupa penyediaan bibit unggul. Dari sisi investasi, proses pertanaman memang butuh modal besar di mana kalau beli sendiri harus merogoh saku Rp 20 ribu per batang.

Disebutkannya, permintaan bibit sangat tinggi. Tahun 2013, pemerintah hanya mampu mendistribusikan 20 ribu dari hasil penangkaran sendiri sedang permintaan mencapai ratusan ribu batang. Bersamaan itu, pihaknya juga mengusul kiranya mendapat atensi dari pemerintah Sumut dan Kementerian Pertanian.

Diterangkan, prospek pasar terbuka luar. Selain punya jamak manfaat, sejumlah daerah penghasil berubah hancur diterpa hama penyakit.

Bersamaan itu, ia berharap tim penyuluh pertanian benar-benar hadir di tengah rakyat guna memberi pencerahan.

Dia optimis, bila semua pemangkut kepentingan punya komitmen serupa, tiga tahun mendatang, ekonomi rakyat pasti menggeliat.

Ia juga menanti kesiapan petani lainnya merubah paradigma. Kalung emas memang perlu dililit di leher dan cincin dibalut di jemari. Namun jauh lebih berfaedah bila aset itu diputar buat kebutuhan agribisnis.

“Raihan masa depan harus lebih prioritas ketimbang berhias. Mengantongi uang penjualan Rp 50 juta sekali musim bukan hal susah didapat kalau fokus di jeruk manis,” tegasnya.

Proses panen juga ringan. Petani hanya tinggal menunggu di timbangan di mana pemetikan dan sortir ditangani toke. Enaknya, pembayaran cash dan transaksi di ladang, tambahnya. (ssr)

sumber:analisadaily dot com


Perdagangan Lainnya
Operasi Pasar Murah
13 November 2014